Senin, 22 Februari 2010

TENTANG HUTAN DI INDONESIA

Peran Hutan
Sangat banyak harapan yang ditopangkan kepada hutan di dalam rangka pengendalian daur air suatu kawasan. Hal ini disebabkan karena secara keseluruhan peran hutan dengan vegetasinya banyak yang bisa diharapkan, walaupun peran tersebut sangat dibatasi oleh beberapa faktor antara lain :
Sifat pertumbuhannya yang dinamik yang tergantung kepada waktu dan musim.
Nilai perannya juga ditentukan oleh struktur hutannya, luasnya, komposisi jenisnya, keadaan pertumbuhannya serta letaknya.
Nilai perannya untuk suatu keadaan ekosistem hutan tertentu juga dibatasi oleh iklim, keadaan geologi, geomorfologi dan watak tanahnya.
Secara lebih rinci peran hutan dapat diterangkan sebagai berikut (Pusposutardjo, 1984) :
Sebagai pengurang atau pembuang cadangan air di bumi melalui proses :
Evapotranspirasi
Pemakaian air konsumtif untuk pembentukan jaringan tubuh vegetasi.
Sebagai penghalang untuk sampainya air di bumi melalui proses intersepsi.
Sebagai pengurang atau peredam energi kinetik aliran air lewat :
Tahanan permukaan dari bagian batang di permukaan
Tahanan aliran air permukaan karena adanya seresah di permukaan.
Sebagai pendorong ke arah perbaikan kemampuan watak fisik tanah untuk memasukkan air lewat sistem perakaran, penambahan dinamika bahan organik ataupun adanya kenaikan kegiatan biologik di dalam tanah.
Peranan kawasan hutan sebagai pengendali daur air dapat dilihat dari dua sudut pandangan yaitu menyediakan air dengan konsep panen air (water harvesting) dan dengan konsep menjamin penghasilan air (water yield). Jumlah air yang dapat dipanen tergantung pada jumlah aliran permukaan (run off) yang dapat digunakan, sedang jumlah air yang dapat dihasilkan bergantung pada debit air tanah. Kedua tujuan tersebut memerlukan perlakuan yang berbeda.
jenis-jenis hutan yang ada di Negara Kesatuan Republik Indonesia disertai arti definisi dan pengertian :
1. Hutan BakauHutan bakau adalah hutan yang tumbuh di daerah pantai berlumpur. Contoh : pantai timur kalimantan, pantai selatan cilacap, dll.
2. Hutan SabanaHutan sabana adalah hutan padang rumput yang luas dengan jumlah pohon yang sangat sedikit dengan curah hujan yang rendah. Contoh : Nusa tenggara.
3. Hutan RawaHutan rawa adalah hutan yang berada di daerah berawa dengan tumbuhan nipah tumbuh di hutan rawa. Contoh : Papua selatan, Kalimantan, dsb.
4. Hutan Hujan TropisHutan hujan tropis adalah hutan lebat / hutan rimba belantara yang tumbuh di sekitar garis khatulistiwa / ukuator yang memiliki curah turun hujan yang sangat tinggi. Hutan jenis yang satu ini memiliki tingkat kelembapan yang tinggi, bertanah subur, humus tinggi dan basah serta sulit untuk dimasuki oleh manusia. Hutan ini sangat disukai pembalak hutan liar dan juga pembalak legal jahat yang senang merusak hutan dan merugikan negara trilyunan rupiah. Contoh : hutan kalimantan, hutan sumatera, dsb.
5. Hutan MusimHutan musim adalah hutan dengan curah hujan tinggi namun punya periode musim kemarau yang panjang yang menggugurkan daun di kala kemarau menyelimuti hutan.
Di samping itu hutan terbagi / dibagi berdasarkan fungsinya, yaitu :
1. Hutan WisataHutan wisata adalah hutan yang dijadikan suaka alam yang ditujukan untuk melindungi tumbuh-tumbuhan serta hewan / binatang langka agar tidak musnah / punah di masa depan. Hutan suaka alam dilarang untuk ditebang dan diganggu dialih fungsi sebagai buka hutan. Biasanya hutan wisata menjadi tempat rekreasi orang dan tempat penelitian.

2. Hutan CadanganHutan cadangan merupakan hutan yang dijadikan sebagai lahan pertanian dan pemukiman penduduk. Di pulau jawa terdapat sekitar 20 juta hektar hutan cadangan.

3. Hutan LindungHutan lindung adalah hutan yang difungsikan sebagai penjaga ketaraturan air dalam tanah (fungsi hidrolisis), menjaga tanah agar tidak terjadi erosi serta untuk mengatur iklim (fungsi klimatologis) sebagai penanggulang pencematan udara seperti C02 (karbon dioksida) dan C0 (karbon monoksida). Hutan lindung sangat dilindungi dari perusakan penebangan hutan membabibuta yang umumnya terdapat di sekitar lereng dan bibir pantai.

4. Hutan Produksi / Hutan IndustriHutan produksi yaitu adalah hutan yang dapat dikelola untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai ekonomi. Hutan produksi dapat dikategorikan menjadi dua golongan yakni hutan rimba dan hutan budidaya. Hutan rimba adalah hutan yang alami sedangkan hutan budidaya adalah hutan yang sengaja dikelola manusia yang biasanya terdiri dari satu jenis tanaman saja. Hutan rimba yang diusahakan manusia harus menebang pohon denga sistem tebang pilih dengan memilih pohon yang cukup umur dan ukuran saja agar yang masih kecil tidak ikut rusak.

Indonesia memiliki 10% hutan tropis dunia yang masih tersisa. Hutan Indonesia memiliki 12% dari jumlah spesies binatang menyusui/mamalia, pemilik 16% spesies binatang reptil dan ampibi, 1.519 spesies burung dan 25% dari spesies ikan dunia. Sebagian dianataranya adalah endemik atau hanya dapat ditemui di daerah tersebut.
Luas hutan alam asli Indonesia menyusut dengan kecepatan yang sangat mengkhawatirkan. Hingga saat ini, Indonesia telah kehilangan hutan aslinya sebesar 72 persen [World Resource Institute, 1997]. Penebangan hutan Indonesia yang tidak terkendali selama puluhan tahun dan menyebabkan terjadinya penyusutan hutan tropis secara besar-besaran. Laju kerusakan hutan periode 1985-1997 tercatat 1,6 juta hektar per tahun, sedangkan pada periode 1997-2000 menjadi 3,8 juta hektar per tahun. Ini menjadikan Indonesia merupakan salah satu tempat dengan tingkat kerusakan hutan tertinggi di dunia. Di Indonesia berdasarkan hasil penafsiran citra landsat tahun 2000 terdapat 101,73 juta hektar hutan dan lahan rusak, diantaranya seluas 59,62 juta hektar berada dalam kawasan hutan. [Badan Planologi Dephut, 2003].
Pada abad ke-16 sampai pertengahan abad ke-18, hutan alam di Jawa diperkirakan masih sekitar 9 juta hektar. Pada akhir tahun 1980-an, tutupan hutan alam di Jawa hanya tinggal 0,97 juta hektar atau 7 persen dari luas total Pulau Jawa. Saat ini, penutupan lahan di pulau Jawa oleh pohon tinggal 4 %. Pulau Jawa sejak tahun 1995 telah mengalami defisit air sebanyak 32,3 miliar meter kubik setiap tahunnya.

Penyebab kerusakan hutan di Indonesia
1. Hak Penguasaan HutanBanyak perusahaan HPH yang melanggar pola-pola tradisional hak kepemilikan atau hak penggunaan lahan. Kurangnya pengawasan dan akuntabilitas perusahaan berarti pengawasan terhadap pengelolaan hutan sangat lemah dan, lama kelamaan, banyak hutan produksi yang telah dieksploitasi secara berlebihan. Menurut klasifikasi pemerintah, pada saat ini hampir 30 persen dari konsesi HPH yang telah disurvei, masuk dalam kategori "sudah terdegradasi".

2. Hutan tanaman industriHutan tanaman industri telah dipromosikan secara besar-besaran dan diberi subsidi sebagai suatu cara untuk menyediakan pasokan kayu bagi industri pulp yang berkembang pesat di Indonesia, tetapi cara ini mendatangkan tekanan terhadap hutan alam.
PerkebunanLonjakan pembangunan perkebunan, terutama perkebunan kelapa sawit, merupakan penyebab lain dari deforestasi.
3. Ilegal logging (Pembalakan Liar)
Pembalakan liar atau penebangan liar (bahasa Inggris: illegal logging) adalah kegiatan penebangan, pengangkutan dan penjualan kayu yang tidak sah atau tidak memiliki izin dari otoritas setempat. Walaupun angka penebangan liar yang pasti sulit didapatkan karena aktivitasnya yang tidak sah, beberapa sumber terpercaya mengindikasikan bahwa lebih dari setengah semua kegiatan penebangan liar di dunia terjadi di wilayah-wilayah daerah aliran sungai Amazon, Afrika Tengah, Asia Tenggara, Rusia dan beberapa negara-negara Balkan. Sebuah studi kerjasama antara Britania Raya dengan Indonesia pada 1998 mengindikasikan bahwa sekitar 40% dari seluruh kegiatan penebangan adalah liar, dengan nilai mencapai 365 juta dolar AS.Studi yang lebih baru membandingkan penebangan sah dengan konsumsi domestik ditambah dengan ekspor mengindikasikan bahwa 88% dari seluruh kegiatan penebangan adalah merupakan penebangan liar. Malaysia merupakan tempat transit utama dari produk kayu ilegal dari Indonesia.Source : http://id.wikipedia.org

4. Program Transmigrasi
Tujuan resmi program ini adalah untuk mengurangi kemiskinan dan kepadatan penduduk di pulau Jawa [1], memberikan kesempatan bagi orang yang mau bekerja, dan memenuhi kebutuhan tenaga kerja untuk mengolah sumber daya di pulau-pulau lain seperti Papua, Kalimantan, Sumatra, dan Sulawesi. Kritik mengatakan bahwa pemerintah Indonesia berupaya memanfaatkan para transmigran untuk menggantikan populasi lokal, dan untuk melemahkan gerakan separatis lokal. Program ini beberapa kali menyebabkan persengketaan dan percekcokan, termasuk juga bentrokan antara pendatang dan penduduk asli setempat.Seiring dengan perubahan lingkungan strategis di Indonesia, transmigrasi dilaksanakan dengan paradigma baru sebagai berikut: 1. Mendukung ketahanan pangan dan penyediaan papan 2. Mendukung kebijakan energi alternatip (bio-fuel) 3. Mendukung pemerataan investasi ke seluruh wilayah Indonesia 4. Mendukung ketahanan nasional pulau terluar dan wilayah perbatasan 5. Menyumbang bagi penyelesaian masalah pengangguran dan kemiskinanTransmigrasi tidak lagi merupakan program pemindahan penduduk, melainkan upaya untuk pengembangan wilayah. Metodenya tidak lagi bersifat sentralistik dan top down dari Jakarta, melainkan berdasarkan Kerjasama Antar Daerah pengirim transmigran dengan daerah tujuan transmigrasi. Penduduk setempat semakin diberi kesempatan besar untuk menjadi transmigran penduduk setempat (TPS), proporsinya hingga mencapai 50:50 dengan transmigran Penduduk Asal (TPA).Dasar hukum yang digunakan untuk program ini adalah Undang-Undang Republik Indonesia]] Nomor 15 Tahun 1997 tentang Ketransmigrasian (sebelumnya UU Nomor 3 Tahun 1972)dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Transmigrasi (Sebelumnya PP Nomor 42 Tahun 1973), ditambah beberapa Keppres dan Inpres pendukungSource : http://id.wikipedia.org

5. Kebakaran HutanAkibat dari itu semua memberi dampak buruk pada kita sendiri dan orang lain yang mana kita tahu hutan dapat menyerap polusi, erosi dan juga dapat mencegah terjadinya banjir, tetapi tidak dapat memberikan kita kehidupan yang lebih mengarah ke tingkat kesehatan yang lebih baik, sehingga banyak nya wabah penyakit yang terjangkit disekitar kita, Hutan merupakan paru-paru dunia yang fungsinya sangat banyak sekali manfaatnya bagi mahkluk hidup di dunia ini, salah satu nya yang sangat tergantung oleh hutan yaitu kehidupan fauna,hutan merupakan tempat tinggal, tempat mencari makan, berkembang biak, berinteraksi satu dengan yang lainnya. Kalau setiap hari hutan ditebang dan diberantas apa jadinya kehidupan fauna disekitar kita,karena hidup mereka sangat tergantung dengan hutan.
Tidak hanya fauna yang hidupnya tergantung pada hutan seluruh kehidupan yang ada didunia ini hidupnya akan tergantung dengan hutan bagi manusia hutan sangat diperlukan untuk berlangsungnya kehidupan, misalnya bagi yang hidup di daerah pelosok –pelosok sana mereka hanya hidup tergantung dengan hutan, tempat mencari makan, berladang, dan lain-lain.Sebelum hutan habis ditebang, hutan biasa menjadi sahabat bagi kita tetapi setelah hutan banyak ditebang dimana-mana,hutan menjadi musuh terbesar bagi kita,m karena hutan akan menjadi sebuah bencana yang tidak dapat kati duga kapan datang. Seperti binatang yang hidup dihutan, mereka tidak punya tempat tinggal lagi untuk bernaung, sekian banyak dari mereka banyak yang hampir punah, dan kalau tempat tinggal mereka tidak ada lagi dimana mereka tinggal, dan bencana itu sendiri akan datang atas amukan dari binatang buas yang marah,ini akan menjadi masalah baru.
selain itu kerusakan hutan dapat juga disebabkan oleh:
Ladang Berpindah
Sebagaimana kita maklumi di daerah Kalimantan Selatan kualitas sumberdaya lahan dan tanah untuk pertanian di perbukitan sangat kurang, sehingga apabila sudah ditanami dua sampai tiga kali terulang lahan tersebut tidak potensial lagi, ditambah dengan teknologi pertanian yang sangat tradisional. Karena itulah masyarakat yang dipimpin Kepala Padang (Kepala Ladang) membuka hutan lagi untuk lahan pertanian baru demi kelangsungan hidup mereka.
Proses tradisional ini sudah berlangsung ratusan tahun atau semenjak manusia Kalimantan mulai berbudaya hingga sekarang ini. Sepengetahuan IMPAS-B hingga penghujung tahun 80-an tidak ada dampak negatif dari aktivitas ladang berpindah karena sewaktu pembakaran lahan masyarakat selalu siap di sekeliling tepian hutan (dalam arti jangan sampai hutan ikut terbakar).
Berladang bagi masyarakat Dayak Kalimantan (penghuni hutan) hanya sekadar untuk mencukupi keperluan pangan saja, tidak sebagai usaha komersial, dan mereka mencukupi kebutuhan lainnya dengan mengambil apa saja yang bernilai ekonomis yang ada di hutan. Peladang berpindah selalu membuka hutan baru berdasarkan perkiraan musim atau iklim. Menurut pengamatan dan berdasarkan kemanusiaan yang adil dan beradab masyarakat Dayak Kalimantan yang menghuni hutan, berladang bagi mereka adalah keharusan alami.
Bekas ladang di tepian hutan yang ditumbuhi rumput dan tanaman muda merupakan lahan santapan yang sangat diperlukan marga satwa penghuni rimba raya sehingga menjadikan kawasan ini sebagai ekosistem yang sangat harmonis. Terlihat adanya ketergantungan antara manusia, tumbuhan dan hewan. Flora menghidupkan fauna dan fauna menebarluaskan flora.
Ladang berpindah sebenarnya tidak merusak lingkungan yang berarti walaupun ada tetapi tidak sebagai penyebab utama kerusakan hutan, karena sewaktu membakar lahan selalu dijaga dan secara emosional mereka memiliki kearifan ekologis terhadap lingkungan sebagai tempat mencari penghidupan.

Dari uraian di atas tentang hutan,kita dapat mengetahui bagaimana keadaan hutan di Indonesia yang semakin rusak akibat ulah manusia.Padahal hutan memiliki peran dan fungsi yang penting dalam menjaga keseimbangan alam dan kehidupan makhluk hidup di bumi.kita bisa bayangkan bila hutan benar-benar habis pastinya perlahan-lahan makhluk hidup akan mengalami kepunahan terutama hewan-hewan yang ada di hutan.Kita bisa rasakan sekarang dengan gundulnya hutan dan rusaknya hutan di beberapa daerah di Indonesia terjadi berbagai bencana alam seperti tanah longsor,banjir, dan lain-lain.Oleh sebab itu diperlukannya kesadaran dari setiap orang untuk menjada,melindungi dan memperbaiki hutan seperti melakukan penanaman pohon dilahan gundul atau penghijauan,tidak menebang pohon sembarangan dan lain-lain.

REFERENSI:
1. http://mayong.staff.ugm.ac.id/site/?page_id=116

Sabtu, 13 Februari 2010

PENTINGNYA BELAJAR BAHASA INDONESIA

“Hasil Perumusan Seminar Politik Bahasa Nasional” yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 25-28 Februari 1975 antara lain menegaskan bahwa dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berfungsi sebagai (1) lambang kebanggaan nasional, (2) lambang identitas nasional, (3) alat pemersatu berbagai-bagai masyarakat yang berbeda-beda latar belakang sosial budaya dan bahasanya, dan (4) alat perhubungan antarbudaya antardaerah.
Sebagai lambang kebanggaan nasional, bahasa Indonesia ‘memancarkan’ nilai-nilai sosial budaya luhur bangsa Indonesia. Dengan keluhuran nilai yang dicerminkan bangsa Indonesia, kita harus bangga dengannya; kita harus menjunjungnya; dan kita harus mempertahankannya. Sebagai realisasi kebanggaan kita terhadap bahasa Indonesia, kita harus memakainya tanpa ada rasa rendah diri, malu, dan acuh tak acuh. Kita harus bngga memakainya dengan memelihara dan mengembangkannya.
Sebagai lambang identitas nasional, bahasa Indonesia merupakan ‘lambang’ bangsa Indonesia. Ini beratri, dengan bahasa Indonesia akan dapat diketahui siapa kita, yaitu sifat, perangai, dan watak kita sebagai bangsa Indonesia. Karena fungsinya yang demikian itu, maka kita harus menjaganya jangan sampai ciri kepribadian kita tidak tercermin di dalamnya. Jangan sampai bahasa Indonesia tidak menunjukkan gambaran bangsa Indonesia yang sebenarnya.
Dengan fungsi yang ketiga memungkinkan masyarakat Indonesia yang beragam latar belakang sosial budaya dan berbeda-beda bahasanya dapat menyatu dan bersatu dalam kebangsaan, cita-cita, dan rasa nasib yang sama. Dengan bahasa Indonesia, bangsa Indonesia merasa aman dan serasi hidupnya, sebab mereka tidak merasa bersaing dan tidak merasa lagi ‘dijajah’ oleh masyarakat suku lain. Apalagi dengan adanya kenyataan bahwa dengan menggunakan bahasa Indonesia, identitas suku dan nilai-nilai sosial budaya daerah masih tercermin dalam bahasa daerah masing-masing. Kedudukan dan fungsi bahasa daerah masih tegar dan tidak bergoyah sedikit pun. Bahkan, bahasa daerah diharapkan dapat memperkaya khazanah bahasa Indonesia.
Dengan fungsi keempat, bahasa Indonesia sering kita rasakan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari. Bayangkan saja apabila kita ingin berkomunikasi dengan seseorang yang berasal dari suku lain yang berlatar belakang bahasa berbeda, mungkinkah kita dapat bertukar pikiran dan saling memberikan informasi? Bagaimana cara kita seandainya kita tersesat jalan di daerah yang masyarakatnya tidak mengenal bahasa Indonesia? Bahasa Indonesialah yang dapat menanggulangi semuanya itu. Dengan bahasa Indonesia kita dapat saling berhubungan untuk segala aspek kehidupan. Bagi pemerintah, segala kebijakan dan strategi yang berhubungan dengan ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, dan kemanan (disingkat: ipoleksosbudhankam) mudah diinformasikan kepada warganya. Akhirnya, apabila arus informasi antarkita meningkat berarti akan mempercepat peningkatan pengetahuan kita. Apabila pengetahuan kita meningkat berarti tujuan pembangunan akan cepat tercapai.

Bahasa Indonesia
Pada awal abad ke-20 perpecahan dalam bentuk baku tulisan bahasa Melayu mulai terlihat. Di tahun 1901, Indonesia (sebagai
Hindia-Belanda) mengadopsi ejaan Van Ophuijsen dan pada tahun 1904 Persekutuan Tanah Melayu (kelak menjadi bagian dari Malaysia) di bawah Inggris mengadopsi ejaan Wilkinson.[6] Ejaan Van Ophuysen diawali dari penyusunan Kitab Logat Melayu (dimulai tahun 1896) van Ophuijsen, dibantu oleh Nawawi Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim.
Intervensi pemerintah semakin kuat dengan dibentuknya Commissie voor de Volkslectuur ("Komisi Bacaan Rakyat" - KBR) pada tahun 1908. Kelak lembaga ini menjadi
Balai Poestaka. Pada tahun 1910 komisi ini, di bawah pimpinan D.A. Rinkes, melancarkan program Taman Poestaka dengan membentuk perpustakaan kecil di berbagai sekolah pribumi dan beberapa instansi milik pemerintah. Perkembangan program ini sangat pesat, dalam dua tahun telah terbentuk sekitar 700 perpustakaan.[7] Bahasa Indonesia secara resmi diakui sebagai "bahasa persatuan bangsa" pada saat Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928. Penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional atas usulan Muhammad Yamin, seorang politikus, sastrawan, dan ahli sejarah. Dalam pidatonya pada Kongres Nasional kedua di Jakarta, Yamin mengatakan,
"Jika mengacu pada masa depan bahasa-bahasa yang ada di Indonesia dan kesusastraannya, hanya ada dua bahasa yang bisa diharapkan menjadi bahasa persatuan yaitu bahasa Jawa dan Melayu. Tapi dari dua bahasa itu, bahasa Melayulah yang lambat laun akan menjadi bahasa pergaulan atau bahasa persatuan."
[8]
Selanjutnya perkembangan bahasa dan kesusastraan Indonesia banyak dipengaruhi oleh sastrawan Minangkabau, seperti Marah Rusli, Abdul Muis, Nur Sutan Iskandar, Sutan Takdir Alisyahbana, Hamka, Roestam Effendi, Idrus, dan Chairil Anwar. Sastrawan tersebut banyak mengisi dan menambah perbendaharaan kata, sintaksis, maupun morfologi bahasa Indonesia.[9]
Adanya era globalisasi bukan menjadi hambatan untuk mencintai bahasanya sendiri sebab bahasa Indonesia sudah menjadi bagian dari hidup kita seperti bahasa Indonesia merupakan alat pemersatu bangsa atau bahasa Nasional, bahasa Indonesia merupakan jati diri kita atau ciri khas sebagai bangsa Indonesia. Itulah sebabnya ada pepatah yang mengatakan Bahasa Menunjukkan Bangsa.
Filipina, Jepang, dan Perancis merupakan negara yang mencintai bahasanya sendiri. Sangat berbeda jauh sekali dengan negara Indonesia, walaupun adanya era globalisasi mereka tidak terpengaruh karena mereka mempunyai kredibilitas yang sangat tinggi.
Kita ambil contoh seperti di negara Perancis.
Awal April 2003, di Hotel Flat de Douai, Paris. Hotel yang harga inapnya setingkat dengan Santika di Yogyakarta. Alif Dansya Munsyi bertanya dalam bahasa Inggris yang belepotan kepada resepsionisnya. Resepsionis tersebut merupakan orang Perancis asli. Ia benar-benar “tidak mau” menjawab pertanyaan beliau dengan bahasa Inggris. Ia berkata dengan amat percaya diri memakai bahasa Perancis (Bahasa Menunjukkan Bangsa).
Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa Perancis merupakan negara yang sangat istimewa. Lihatlah nama hotel yang ditempati beliau. Itulah buktinya bahwa mereka mencintai bahasanya. Seandainya negara Indonesia seperti negara Perancis yang mencintai bahasanya, maka masyarakat Indonesia tidak lagi sok nginggris.
Dari uraian di atas tentang Bahasa Indonesia,dapat diketahui betapa pentingnya kita sebagai warga Indonesia terutama generasi muda untuk belajar,memahami,mencintai bahasa Indonesia dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari . Kita haruslah bangga menggunakan bahasa Indonesia tentunya dengan ejaan,pengucapan,penulisan secara lisan maupun tulisan yang tepat dan benar sesuai dengan ketentuan-ketentuan penggunaan bahasa Indonesia yang berlaku.Kita tidaklah harus malu atau gengsi dalam menggunakan bahasa Indonesia yang baik kepada semua orang,sebab bahasa Indonesia merupakan identitas diri kita yang menyatakan kepada seluruh orang atau dunia bahwa diri kita adalah warga negara Indonesia.Dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, kita dapat dengan mudah berkomunikasi dengan masyarakat di seluruh pelosok nusantara yang masing-masing daerah memiliki bahasa daerah yang berbeda-beda antara yang satu dengan yang lainnya.Menerapkan dan menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari dengan baik dan benar akan menjadi bukti kecintaan kita kepada bahasa dan negara kita yaitu Indonesia

REFERENSI:
1. http://muslich-m.blogspot.com/2007/04/kedudukan-dan-fungsi-bahasa-indonesia.html
2. http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Indonesia
3. http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=5063

Minggu, 07 Februari 2010

Waktu Dalam Hidup Ku

waktu telah banyak berlalu dari hidupku
terasa cukup lama jua ku hidup di dunia
waktu kan selalu beraganti dengan waktu yang baru
yang nantinya hanya kan jadi kenangan semata

apa kiranya yang telah kuperbuat tuk hidupku ini
terasa hampa tak ada yang menghiasi
aku ingin berbuat sesuatu dalam hiduku ini
sehingga hidupku kan menjadi terang menderang

tuhan apa yang harus kulakukan dalam kehidupan ini
aku bagaikan kebingungan dalam menentuka sikap
tuhan ku igin bisa mengepakkan sayap kehidupanku ini
agar kehidupanku lebih indah dan berarti

ku tak hanya ingin indah dihadapanmu tuhan
tetapi menjadi indah jua di hati setiap orang
terutama mereka yang amat kukasihi
maka kumohon tunjukkan lah jalan yang indah nan lurus untukku tuhan

berbagai bertanyaan memenuhi pikiran ku
bagaimanakah kan ku bawa kehidupan ku
namun kusadar ku harus memimpin jiwa dan ragaku
ke arah seharusnya ku berjalan menyesuri kehidupan ku

ku tau ku tak boleh mebuang waktu dengan percuma lagi
ku tau ku harus membuang segala kebimbangan hati
karena jalan kehidupan ku ini tak hanya tuhan yang menentukan
tetapi juga usaha yang kulakukan dalam hidupku ini

Rabu, 30 Desember 2009

PEMBAGIAN SEGMENTASI BERDASARKAN GEODEMOGRAFI DAN KEGUNAANNYA BAGI PEMASAR

Segmentasi pasar adalah sebuah metode bagaimana memandang pasar secarakreatif. Kita perlu secara kreatif mengidentifikasi dan memanfaatkanpeluang yang muncul di pasar (Hermawan Kertajaya). Segmentasi pasarsangatlah penting di dalam bisnis dan pemasaran. Walaupun kita tidakboleh mengiris-iris pasar terlalu kecil, segmentasi pasar tetaplah suatuhal yang harus dipelajari dalam membangun usaha.
Manfaat Segmentasi
Salah satu alasan perusahaan melakukan segmentasi untuk meningkatkan efektivitas strategi pemasaran yang telah disusun, serta lebih terarah dan sumber daya perusahaan dapat digunakan secara efektif dan efisien. Segmentasi yang berorientasi pada peningkatan pemasaran akan memberikan keuntungan bagi pebisnis dan pelanggan, yaitu:
1. Menyediakan keinginan dan kebutuhan pelanggan dengan lebih baikProdusen dapat memuaskan keinginan dan kebutuhan pelanggan yang bervariasi dengan menggunakan pola berbeda, insentif dan kegiatan promosi yang bebeda pada setiap segmen yang dituju. Contohnya perusahaan komputer Dell, yang mengelompokkan konsumennya kedalam kelompok pribadi, bisnis kecil, bisnis besar, dan organisasi pemerintah atau kemasyarakatan dan bukan berdasarkan pada lini produk yang dihasilkan. Hal tersebut terbukti mampu memberikan pelayanan dan ketersediaan produk yang lebih baik.2. Meningkatkan pendapatanLebih sulit bagi produsen untuk menaikkan harga pada seluruh pasar. Kecuali jika produsen mengelompokkan segmen premium yang akan menerima harga yang lebih mahal. Dengan segmentasi perusahaan mengetahui pasar mana yang berpotensi dapat meningkatkan pendapatannya lebih besar.3. Peluang untuk tumbuhDengan segmentasi pasar organisasi dapat menciptakan ‘niche product’ yang akan menarik konsumen lain untuk mencoba dan kemudian membeli produk tersebut.
Dalam menentukan strategi kebijakan segmentasi market untuk pemasaran produk tidak dapat dilakukan dengan sembarangan. Kebijakan pensegmenan tersebut harus didasarkan pada kriteria tertentu. Diantara kriteria tertentu yang dimaksud adalah terdiri atas pensegmenan objek konsumsi dan objek industry. Berikut beberapa poin penting yang dapat digunakan sebagai rujukan untuk melakukan segmentasi:
Segmentasi pasar yang dilakukan dengan landasan tata demografis dari suatu daerah. Dalam melakukan segmentasi dengan mempertimbangkan faktor demografis dapat dilakukan dengan menspesifikasikan pasar pada kriteria jenis kelamin, besarnya income dari para konsumen, agama yang dianut, tingkat jenjang pendidikan, jenis pekerjaan yang mayoritas di daerah yang disurvei dan masih banyak lagi.
Segmentasi yang dilakukan berdasarkan atas faktor psychografis. Pensegmentasian berdasarkan faktor psychografis dapat dilakukan dengan mengkategorikan market terdiri atas klasifikasi motif atau alas an dasar terjadinya pembelian yang dilakukan oleh konsumen, gaya hidup yang kebanyakan sedang buming yang terjadi saat ini, kelas sosial atas konsumen yang menjadi target sasaran produk, dan berbagai hal pendukung lainnya seperti ciri-ciri kepribadian yang dimiliki oleh para konsumen.
Segmentasi yang terakhir yaitu segmentasi yang didasarkan pada letak konsumen di daerah tertentu dengan tinjauan secara geografis wilayah. Tentunya tidak mungkin memasarkan produk tungku pemanas (heater) di wilayah tropis dimana memiliki suhu yang panas. Heater akan laku untuk daerah dengan memiliki iklim yang dingin.Kemudian penggolongan segmentasi atas pertimbangan faktor geografis juga dapat dilakukan dengan cara melihat pertimbangan seperti letak konsumen apakah di kota, di desa, di kabupaten, di propinsi, atau target yang lebih luas Negara atau nasional atau bahkan hingga pasar tingkat internasional. Dengan melihat dan mencari faktor-faktor yang mendukung untuk mensukseskan terjadinya penjualan maka perusahaan akan lebih mengerti akan selera pasar sesuai di tiap-tiap daerah.
Geodemografi merupakan sebuah kombinasi dari karakteristik demografis dan gaya hidup konsumen dalam kelompok (cluster) geografis. Penetapan Sasaran Berdasarkan Demografi• Pertumbuhan populasi dan penyebaran geografis.• Perubahan struktur usia, seperti Konsumen berusia setengah baya dan mapan; Anak-anak dan remaja; dll. • Perubahan yang terjadi dalam rumah tangga konsumen.• Perkembangan populasi etnis.
Dari penjelasan diatas dapat diketahui atau disimpulkan bahwa:
Segmentasi pasar sangat membantu suatu usaha atau perusahaan untuk dapat menetapkan strategi pemasaran yang nantinya dapat membuat perusahaan menglikasikan produk-produk sesuai dengan sasarannya.Tentu saja dengan pengakolasian yang tepat dengan cara segmentasi pasar nanti dapat mendatangkan keuntungan bagi perusahaan tersebut.
Segmentasi pasar Geodemografi merupakan pencampuran antara Segmentasi Demografi dengan Geografi.Dimana faktor-faktor yang terdapat diantara keduanya sangat saling mempengaruhi antara satu dengan yang lainnya.
Segmentasi Demografi di pengaruhi oleh berbagai faktor-faktor seperti:
1. Jenis Kelamin:Dimana antara wanita dengan pria memiliki postur tubuh yang sangat berbeda sehingga dalam pemenuhan kebutuhan akan hidup dan corakatau model produk yang digunakanakan sangat berbeda.biasanya kebutuhan wanita lebih banyak dibandingkan dengan kebutuhan pria contohnya kebutuhan akan kebutuhan berbagai model pakainan alat mempercanti diri bagi wanita .
2. Besarnya Income dari konsumen : Setiap orang memiliki berbagai pekerjaan dan tingkat pendapatan yang berbeda- beda antara yang satu dengan yang lainnya.Sehingga besar kecilnya produk yang dibeli maupun segi kualitas produk yang digunakan sangat tergantung pada pendapatan dari masing-masing orang tersebut.
3. Agama yang dianut:Setiap agama memiliki berbagai peraturan-peraturan yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya dimana aturan dan kebiasaan yang diajarkan dalam setiap agama tersebut harus dijalani dan dilaksanakan oleh semua umat yang mengikuti ajaran agama tersebut dan orang yang melanggarnya pastinya akan mendapatkan dosa,Contohnya larangan memakan daging Anjing Dan Babi bagi umat Islam.
4. Tingkat jenjang pendidikan: Tingkat pendidikan setiap orang pun berbeda antara orang yang satu dengan yang lain dimana biasanya semakin tiggi tingkat jenjang seseoran akan semakin beragam produk yang akan dibeli dan dugunakan dan semakin tinggi pemilihan kualitas dari produk tersebut.
Segmentasi geografi di pengaruhi letak konsumen dimana ia tinggal,dimana besar kecilnya wilayah,suhu,maupun keadaan wilayah yang ia tinggali sangat berpengaruh terhadap produk-produk yang akan dibelinya.seperti orang yang tinggal di suhu dingin dalam meggunakan pakaian pastinya akan memakai pakaian yang tebal dan hangat yang menutupi seluruh tubuh dan tidak mungkin meggunakan pakaian yang tipis dan pendek seperti orang yang tinggal di daerah panas.

Referensi :
1. http://finance.groups.yahoo.com/group/Bisnis_Center/message/13736
2. http://massofa.wordpress.com/2009/03/03/segmentasi-pasar/
3. http://go-kerja.com/pemasaran-strategi/
4. http://libertysarman.blogspot.com/2009/12/sasaran-komunikasi-pemasaran-demografis.html

Kamis, 24 Desember 2009

“KENAPA YA, WANITA SAAT INI LEBIH SUKA MEMAKAI CELANA(JEANS)

Ehm!,bila kita lihat penampilan wanita pada saat ini tidak dijalan,dimol atau tempat perbelanjaan,dikampus,tempat rekreasi maupun tempat lainnya.Kebanyakkan pada saat ini didalam berbusana lebih cenderung atau suka memakai celana(pendek/panjang) yang terbuat dari bahan/jeans,jarang sekali yang memakai rok,bila ditemui hanya beberapa orang saja.
Bila zaman dulu kaum wanita cenderung lebih suka memakai rok di dalam berbusana dan penggunaan celana bahan atau jeans cenderung dikenakan oleh kaum pria,namun dengan perkembangan zaman yang semakin maju penggunaan celan bahan atau jeans yang dulu digunakan hanya oleh kaum pria kini juga dikenakan oleh kaum wanita.Penggunaan rok hanya terlihat di tempat-tempat formal seperti sekolah dan gedung perkantoran atau di acara-acara tertentu saja.

Dari beberapa orang wanita yang ditanya alasan mereka lebih suka mengenakan celan dibanding rok ketika berpergian diantaranya adalah karena menggunakan celana itu lebih enak dan nyaman dan memakai rok banyak resikonya,lebih leluasa dalam melakukan kegiatan aktivitas apalagi didalam kendaraan seperti kereta,lebih simpel dan tidak risih.
Ya dengan berbagai alasan itulah kaum wanita saat ini lebih menyukai menggunakan celana terutama celana jeans dibanding mengenakan rok.

Dari mana ya celana jeans berasal?
Berikut keterangan mengenai sejarah celana jeans yang diambil dari
http://id.shvoong.com/social-sciences/sociology/1846949-sejarah-celana-jeans-levi/

Levi’s diperkenalkan oleh seorang pemuda nekad dari Newyork berumur 20 tahun, bernama Levi Strauss. Profesi sehari-hari pemuda tersebut adalah penjual pakain.Levi Strauss tidak menyangka jika jeans buatannya akan laku keras dan digemari oleh mayarakat dunia. Padahal dalam memperkenalkan produknya tersebut, ia lebih besar hanya bermodalkan nekad. Levi Strauss sangat cerdik dalam menangkap peluang. Ia tidak mau mengikuti jejak rekan-rekannya yang lebih memilih profesi sebagai penambang emas, ketika merantau ke California pada tahun 1848. Di tahun tersebut masyarakat Amerika sedang dilanda demam emas.Di sana, Levi Strauss memperhatikan para penambang emas yang sedang bekerja. Ternyata diantara para penambang tersebut, banyak penambang memakai celana yang mudah rusak pada saat bekerja. Akhirnya, Levi Strauss mencoba membuat celana dari bahan yang tidak mudah robek dengan memesannya dari Genoa. Bahan itu di dunia pemintalan dikenal dengan istilah ‘genes’, yang sekarang orang lebih mengenalnya dengan sebutan ‘jeans’. Celana hasil karya pertamanya itu diberi merk ‘Levi’s’.Celana jeans tersebut akhirnya menjadi pakai kebangsaan bagi para penambang emas di California, dan kini banyak masyarakat yang sering kita jumpai mengenakan celana jeans Levi’s. Semoga kisah Levi Staruss ini dapat menjadi inspirasi kita untuk berani berinovasi dan mengambil resiko.

RISET PERILAKU KONSUMEN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA

Bidang riset konsumen dikembangkan sebagai perluasan bidang riset pemasaran, hampir semata-mata memfokuskan perhatiannya pada perilaku konsumen bukannya pada aspek-aspek lain dalam proses pemasaran. Hasil-hasil riset pasar dan juga hasil riset konsumen digunakan untuk memperbaiki pengambilan keputusan manajerial. Alasan pertama mempelajari perilaku konsumen adalah untuk memungkinkan para pemasar meramalkan bagaimana para konsumen akan bereaksi terhadap berbagai pesan promosi dan untuk memahami cara mereka mengambil keputusan membelinya
Perilaku konsumen :Adalah tingkah laku dari konsumen, dimana mereka dapat mengilustrasikan pencarian untuk membeli, menggunakan, mengevaluasi dan memperbaiki suatu produk dan jasa mereka. Focus dari perilaku konsumen adalah bagaimana individu membuat keputusan untuk menggunakan sumber daya mereka yang telah tersedia untuk mengkonsumsi suatu barang.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU KONSUMEN

Menurut Philip Kotler dan Gary Armstrong (1996) keputusan pembelian dari pembeli sangat dipengaruhi oleh faktor kebudayaan, sosial, pribadi dan psikologi dari pembeli.

Faktor Budaya
Faktor budaya memberikan pengaruh paling luas dan dalam pada perilaku konsumen. Pengiklan harus mengetahui peranan yang dimainkan oleh budaya, subbudaya dan kelas sosial pembeli. Budaya adalah penyebab paling mendasar dari keinginan dan perilaku seseorang. Budaya merupakan kumpulan nilai-nilai dasar, persepsi, keinginan dan perilaku yang dipelajari oleh seorang anggota masyarakat dari keluarga dan lembaga penting lainnya.
Setiap kebudayaan terdiri dari sub-budaya – sub-budaya yang lebih kecil yang memberikan identifikasi dan sosialisasi yang lebih spesifik untuk para anggotanya. Sub-budaya dapat dibedakan menjadi empat jenis: kelompok nasionalisme, kelompok keagamaan, kelompok ras, area geografis. Banyak subbudaya membentuk segmen pasar penting dan pemasar sering kali merancang produk dan program pemasaran yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen.
Kelas-kelas sosial adalah masyarakat yang relatif permanen dan bertahan lama dalam suatu masyarakat, yang tersusun secara hierarki dan keanggotaannya mempunyai nilai, minat dan perilaku yang serupa. Kelas sosial bukan ditentukan oleh satu faktor tunggal, seperti pendapatan, tetapi diukur dari kombinasi pendapatan, pekerjaan, pendidikan, kekayaan dan variable lain.

Faktor Sosial
Perilaku konsumen juga dipengaruhi oleh faktor sosial, seperti kelompok kecil, keluarga serta peranan dan status sosial konsumen. Perilaku seseorang dipengaruhi oleh banyak kelompok kecil. Kelompok yang mempunyai pengaruh langsung. Definisi kelompok adalah dua orang atau lebih yang berinteraksi untuk mencapai sasaran individu atau bersama.
Keluarga dapat pempengaruhi perilaku pembelian. Keluarga adalah organisasi pembelian konsumen yang paling penting dalam masyarakat. Keputusan pembelian keluarga, tergantung pada produk, iklan dan situasi.
Seseorang umumnya berpartisipasi dalam kelompok selama hidupnya-keluarga, klub, organisasi. Posisi seseorang dalam setiap kelompok dapat diidentifikasikan dalam peran dan status. Setiap peran membawa status yang mencerminkan penghargaan yang diberikan oleh masyarakat.

Faktor Pribadi
Keputusan pembelian juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi seperti umur dan tahapan daur hidup, pekerjaan, situasi ekonomi, gaya hidup, serta kepribadian dan konsep diri pembeli.
Konsumsi seseorang juga dibentuk oleh tahapan siklus hidup keluarga. Beberapa penelitian terakhir telah mengidentifikasi tahapan-tahapan dalam siklus hidup psikologis. Orang- orang dewasa biasanya mengalami perubahan atau transformasi tertentu pada saat mereka menjalani hidupnya.
Pekerjaan mempengaruhi barang dan jasa yang dibelinya. Para pemasar berusaha mengidentifikasi kelompok-kelompok pekerja yang memiliki minat di atas rata-rata terhadap produk dan jasa tertentu.
Situasi ekonomi seseorang akan mempengaruhi pemilihan produk. Situasi ekonomi seseorang terdiri dari pendapatan yang dapat dibelanjakan (tingkatnya, stabilitasnya, dan polanya), tabungan dan hartanya (termasuk presentase yang mudah dijadikan uang
Gaya hidup seseorang adalah pola hidup di dunia yang diekspresikan oleh kegiatan, minat dan pendapat seseorang. Gaya hidup menggambarkan “seseorang secara keseluruhan” yang berinteraksi dengan lingkungan. Gaya hidup juga mencerminkan sesuatu dibalik kelas sosial seseorang.
Kepribadian adalah karakteristik psikologis yang berada dari setiap orang yang memandang responnya terhadap lingkungan yang relatif konsisten. Kepribadian dapat merupakan suatu variabel yang sangaat berguna dalam menganalisa perilaku konsumen. Bila jenis-jenis kepribadian dapat diklasifikasikan dan memiliki korelasi yang kuat antara jenis-jenis kepribadian tersebut dengan berbagai pilihan produk atau merek.
Dari penjelasan di atas mengenai perilaku konsumen dapat diketahui betapa pentingnya seorang manajer mengetahui berbagai faktor-faktor yang memepengaruhi perilaku konsumen yaitu kebudayaan, sosial, pribadi dan psikologi dari pembeli.yaitu bagaimana konsumen akan berperilaku dalam melakukan pembelian terhadap produ-produk yang ditawarkan atau yang telah dipromosikan oleh suatu produsen atau pengusaha produk-produk tertentu.Setelah memahami faktor-faktor tersebut tentunya seorang manajer dapat melakukan berbagai strategi pemasaran seperti promosi yang harus dilakukan dan diterapkan guna menarik minat para konsumen ,agar mempergunakan produk-produk yang mereka tawarkan sehingga produk tersebut laku di pasaran.

Referensi:
1. http://community.gunadarma.ac.id/blog/view/id_8167/title_perilaku-konsumen/
2. http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/2009/11/03/pentingnya-perilaku-konsumen-dalam-menciptakan-iklan-yang-efektif/


Minggu, 22 November 2009

Tugas Metode Riset 3

Rangkuman Jurnal data sekunder 1:
Oleh
Liabriana NPM:10207655
Rinta Harjanti NPM:10207944
Kelas 3EA05

ANALISIS PERANAN PERBANKAN DALAM
MEMAJUKAN SEKTOR USAHA KECIL-MIKRO
YANG BERWAWASAN LINGKUNGAN
(STUDI KASUS DI KABUPATEN TOBA
SAMOSIR, PROPINSI SUMATERA UTARA)
(Rencana Proposal Penelitian)

Oleh:
Petrus F.T.P. Tampubolon
NRP. P062059394
pftpt@telkom.net
Ringkasan:
Kabupaten Toba Samosir dibentuk dengan Undang-Undang nomor 12 tahun 1998 tentang Pembentukan Kabupaten Toba Samosir dan Kabupaten Mandailing Natal. Kabupaten Toba Samosir merupakan pemekaran dari Kabupaten Tapanuli Utara yang diresmikan pada tanggal 9 Maret 1999 oleh Menteri Dalam Negeri. Kabupaten Toba Samosir terletak di bagian tengah Propinsi Sumatera Utara di jajaran Bukit Barisan dengan topografi berbukit dan bergelombang. Secara geografis Kabupaten Toba Samosir terletak pada 2003’ – 2040’Lintang Utara, 98056’ - 99040’ dan 300 - 2.200 meter di atas permukaan laut.Kabupaten Toba Samosir berbatasan dengan Kabupaten Simalungun di sebelah Utara, sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Asahan dan 7 Labuhan Batu, sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Kabupaten Tapanuli Utara, dan sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Samosir.
Kabupaten Toba Samosir, yang memiliki luas daratan 2.021,80 km2, terdiri dari 11 kecamatan dengan 192 desa/kelurahan, yaitu 179 desa dan 13 kelurahan. Dari 11 kecamatan tahun 2004, Habinsaran merupakan kecamatan dengan luas daratan terluas, yaitu 732,06 km2 atau 36,21%. Diurutan kedua Kecamatan Pintu Pohan Meranti dengan luas 386,95 km2 atau 19,14%. Sedangkan Sigumpar merupakan kecamatan yang memiliki luas daratan terkecil, yaitu 25,50 km2 atau 1,26%.
Berdasarkan angka hasil Sensus Penduduk tahun 2000, penduduk Kabupaten Toba Samosir berjumlah 174.382 jiwa dengan kepadatan penduduk sebesar 88,39 jiwa per km2. Laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Toba Samosir tahun 2000 dibandingkan dengan tahun 1990 adalah sebesar 0,51%. Berdasarkan hasil proyeksi penduduk tahun 2004, jumlah penduduk Kabupaten Toba Samosir berjumlah 167.907 jiwa, dengan demikian laja pertumbuhan penduduk selama kurun waktu 2000 sampai 2004 adalah - 0,94%. Adapun jumlah rumah tangga sebesar 36.749 rumah tangga, dengan rata-rata anggota per rumah tangga tahun 2004 sekitar 4,6 jiwa. Balige yang merupakan ibukota Kabupaten Toba Samosir memiliki jumlah penduduk terbesar, yaitu 47.412 jiwa (28,24%) dengan 8.784 rumah tangga, disusul Kecamatan Porsea dengan 24.689 jiwa (14,70%) dengan 5.768 rumah tangga. Sedangkan Kecamatan Sigumpar merupakan kecamatan yang memiliki jumlah penduduk paling sedikit, yaitu 6.624 jiwa (3,94%) dengan 1.615 rumah tangga.Tingkat kepadatan penduduk di Kabupaten Toba Samosir tahun 2004 sebesar 83,05 km2/jiwa. Berdasarkan kecamatan, keragaman tingkat kepadatan penduduk cukup heterogen. Balige sebagai ibukota kabupaten merupakan daerah yang paling padat, dengan tingkat kepadatan penduduk 410,49 jiwa/km2, diikuti Kecamatan Sigumpar dengan 259,76 jiwa/km2,. Sedangkan kecamatan yang memiliki tingkat kepadatan penduduk yang paling rendah adalah Kecamatan Pintu Pohan Meranti yaitu hanya 20,49 jiwa/km2. Berdasarkan jenis kelamin, penduduk perempuan Kabupaten Toba Samosir tahun 2004 lebih besar dibandingkan dengan jumlah penduduk lakilaki. Sebagai perbandingan, rasio jenis kelamin tahun 2004 sebesar 97,14, artinya setiap 100 penduduk perempuan, terdapat 97 orang penduduk lakilaki.Atau dalam presentase dapat dinyatakan bahwa sekitar 50,73% merupakan penduduk perempuan dan sisanya 49,27% penduduk laki-laki. Besaran angka Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Toba Samosir atas dasar harga berlaku tahun 2004 sebesar Rp. 1.748.167,51 juta, menurun sebesar 13,22% dibandingkan tahun 2003. Sedangkan berdasarkan atas harga konstan tahun 2000, PDRB Kabupaten Toba Samosir tahun 2004 sebesar Rp. 1.285.571,32 juta, menurun sebesar 16,29% dibandingkan tahun 2003. Berdasarkan lapangan usa, sektor industri merupakan sektor yang memberikan sumbangan terbesar dalam pembentukan PDRB (atas dasar harga berlaku) Kabupaten Toba Samosir tahun 2004. Kontribusi yang diberikan oleh sektor industri bagi pembentukan PDRB Kabupaten Toba Samosir adalah 38,17%. Sektor kedua yang memberikan kontribusi yang terbesar adalah sektor pertanian sebesar 32,76%. Sektor industri merupakan sektor yang menunjukkan penurunan yang cukup berarti dalam pembentukan PDRB tahun 2004, hal ini dapat dilihat 8 dari perannya tahun 2003 sebesar 50,62% turun tajam menjadi 38,17% pada tahun 2004. Sementara sektor pertambangan dan penggalian merupakan sektor terkecil dalam memberi kontribusi terhadap total PDRB atas dasar harga berlaku yaitu hanya 0,28%. PDRB per kapita Kabupaten Toba Samosir atas dasar harga berlaku ahun 2004 sebesar Rp. 10.411.522,51 mengalami penurunan sebesar 13,65% bila dibanding tahun 2003. Sementara berdasarkan atas dasar harga constan, PDRB per kapita tahun 2004 sebesar Rp. 7.656.448,63 mengalami penurunan sebesar 16,69% dibanding tahun 2003.

: Toba Samosir dalam Angka 2004, BPS Kabupaten Toba Samosir.
Jumlah kredit yang disalurkan bank umum di Kabupaten Toba Samosir pada posisi bulan September 2004 sebesar Rp. 116.466 juta, artinya bahwa loan to deposit ratio (LDR) atau perbandingan antara jumlah kredit yang disalurkan dengan jumlah dana masyarakat yang disimpan di bank hanya sebesar 35,26%. Dengan nilai LDR 35,26%, perbankan masih mempunyai ruang yang cukup luas untuk meningkatkan perannya dalam menggerakkan
aktivitas perekonomian masyarakat. Pada waku yang sama, sektor yang paling besar mendapatkan kucuran dana kredit adalah sektor jasa sosial yang mencapai Rp. 36.336 juta atau 31,20%, disusul oleh sektor lain-lain sebesar Rp. 21.302 juta atau 18,29%. Sedangkan sektor yang mendapat kucuran kredit terkecil diluar sektor pertambangan dan listrik, gas dan air adalah sektor pengangkutan yang hanya mendapat Rp. 704 juta atau 0,60%.


Toba Samosir dalam Angka 2004, BPS Kabupaten Toba Samosir.
Jumlah kredit usaha kecil yang disalurkan perbankan pada posisi bulan September 2004 adalah Rp. 65.659 juta atau 56,38% dari total jumlah kredit yang disalurkan oleh bank umum. Sektor yang paling besar mendapatkan KUK adalah sektor perdagangan sebesar Rp. 33.151 juta. Pada saat yang sama, sektor perindustrian dan sektor pertanian yang memberikan kontribusi terbesar dalam PDRB Kabupaten Toba Samosir, yaitu Rp. 667,288.98 juta dan Rp. 572,631.29 juta, hanya memperoleh kucuran KUK masing-masing sebesar Rp. 3.154 juta (4,80% dari total KUK)dan Rp. 10.715 juta (16,32% dari total KUK). Dengan mempertimbangkan kontribusi sektor perindustrian dan sector pertanian dalam PDRB, maka perbankan berpeluang untuk meningkatkan penyaluran KUK pada kedua sektor ini sehingga diharapkan dapat lebih memacu peningkatan PDRB Kabupaten Toba Samosir.

4.3. Faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas kebijakan/regulasi yang
dikeluarkan perbankan dalam memajukan sektor usaha kecil-mikro
yang berwawasan lingkungan di wilayah Kabupaten Toba Samosir.
Berdasarkan hasil pengamatan sementara dan diskusi dengan praktisi/pakar perbankan (professional judgement), pendapat para pelaku usaha pada sektor ekonomi kecil-mikro dan uraian pada beberapa literatur, dapat dikemukakan beberapa faktor yang mempengaruhi efektivitas kebijakan/regulasi perbankan dalam memajukan sektor usaha kecil-mikro
yang berwawasan lingkungan, antara lain :
1. Tingkat suku bunga bank, baik tingkat bunga simpanan maupun tingkat
bunga pinjaman.
2. Persyaratan pengajuan dan pencairan kredit yang ditetapkan oleh bank.
3. Cara pengembalian kredit, termasuk jangka waktu pengembalian kredit.
4. Kesiapan dan kemampuan sumberdaya manusia / petugas perbankan
dalam memahami karakteristik usaha dan memahami karakteristik
pengusaha kecil-mikro.
5. Rasio antara proyeksi perolehan keuntungan dan biaya yang harus
dikeluarkan pengusaha kecil-mikro dalam menjalankan konsep usaha
yang berwawasan lingkungan.



Analisis data sekunder oleh:
Liabriana NPM: 10207655 Kelas:3EA5
ANALISIS PERANAN PERBANKAN DALAM
MEMAJUKAN SEKTOR USAHA KECIL-MIKRO
YANG BERWAWASAN LINGKUNGAN
(STUDI KASUS DI KABUPATEN TOBA
SAMOSIR, PROPINSI SUMATERA UTARA)
(Rencana Proposal Penelitian)

Oleh:
Petrus F.T.P. Tampubolon
NRP. P062059394
pftpt@telkom.net

peranan perbankan dalam menjalankan fungsi intermediasi di Kabupaten Toba Samosir masih belum berjalan optimal. Tingkat LDR sebesar 35,26% yang ada saat ini masih berpotensi untuk dapat ditingkatkan secara bertahap sehingga dapat lebih menggerakkan aktivitas perekonomian masyarakat tanpa harus merusak lingkungan dan sumberdaya alam yang ada.
Beberapa rekomendasi yang diajukan untuk dapat meningkatkan peranan perbankan di Kabupaten Toba Samosir antara lain :
1. Membuat peta (mapping) potensi atas setiap jenis sektor ekonomi
berdasarkan :
a. Jumlah penyerapan tenaga kerja.
b. Tingkat pengembalian (kualitas) kredit.
c. Potensi dampak yang ditimbulkan terhadap kerusakan lingkungan.
2. Melibatkan tokoh-tokoh masyarakat setempat sejak awal proses
pemberian dan pemantauan kredit.
3. Memberi kredit dalam kelompok-kelompok kecil dan tiap kelompok
dipimpin oleh satu orang ketua. Resiok gagal bayar oleh salah seorang
anggota kelompok dalam kelompok tertentu akan ditanggung bersamasama
(tanggung-renteng) oleh anggota kelompok lainnya.
4. Memberikan kredit dalam batas/radius tertentu yang masih dapat
terpantau dengan baik oleh petugas bank.

beberapa faktor yang mempengaruhi efektivitas kebijakan/regulasi perbankan dalam memajukan sektor usaha kecil-mikro
yang berwawasan lingkungan, antara lain :
1. Tingkat suku bunga bank, baik tingkat bunga simpanan maupun tingkat
bunga pinjaman.
2. Persyaratan pengajuan dan pencairan kredit yang ditetapkan oleh bank.
3. Cara pengembalian kredit, termasuk jangka waktu pengembalian kredit.
4. Kesiapan dan kemampuan sumberdaya manusia / petugas perbankan
dalam memahami karakteristik usaha dan memahami karakteristik
pengusaha kecil-mikro.
5. Rasio antara proyeksi perolehan keuntungan dan biaya yang harus
dikeluarkan pengusaha kecil-mikro dalam menjalankan konsep usaha
yang berwawasan lingkungan



Rangkuman Jurnal data sekunder 2:
Oleh
Liabriana NPM:10207655
Rinta Harjanti NPM:10207944
kelas 3EA05


PENGARUH FAKTOR INTERNAL BANK TERHADAP VOLUME KREDIT PADA BANK YANG GO PUBLIC DI INDONESIA

FRANCISCA
DRS. HASAN SAKTI SIREGAR, M.Si, Ak
Universitas Sumatera Utara

Populasi pada penelitian ini adalah seluruh bank-bank yang go public di Indonesia dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2005 sampai dengan tahun 2007. Jumlah populasi yang ada adalah 23 bank pada tahun 2005, 26 bank pada tahun 2006 dan 31 bank pada tahun 2007. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini ditentukan dengan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu (Sugiono, 2004:78). Beberapa pertimbangan yang digunakan dalam menentukan sampel adalah:
1. Bank-bank tersebut terdaftar di Bursa Efek Jakarta (Indonesia) pada tahun 2005, 2006 dan 2007
2. Bank-bank tersebut tidak sedang berada dalam proses delisting pada periode tersebut,
3. Menerbitkan dan mempublikasikan laporan keuangan pada periode 2005-2007.
Hasil seleksi dengan menggunakan metode purposive sampling mendapatkan 66 sampel penelitian.
Variabel Penelitian
Variabel independen (bebas), merupakan variabel yang mempengaruhi variabel lain (Umar, 2003:50). Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah dana pihak ketiga, capital adequacy ratio, return on asset dan non performing loan. Variabel independen disimbolkan dengan “X1” (dana pihak ketiga atau DPK), “X2” (capital adequacy ratio atau CAR), “X3” (return on asset atau ROA) dan “X4” (non performing loan atau NPL).
Variabel dependen (terikat), merupakan variabel yang dijelaskan atau yang dipengaruhi oleh variabel independen. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah jumlah atau volume penyaluran kredit. Variabel dependen disimbolkan dengan “Y”.
Menurut Jogiyanto (2004:62), “Definisi operasional adalah menjelaskan karakteristik dari objek ke dalam elemen-elemen yang dapat diobservasi yang menyebabkan konsep dapat diukur dan dioperasionaliasikan di dalam riset”.
a. Dana pihak ketiga (DPK) merupakan sumber dana bank yang dihimpun dari masyarakat sebagai nasabah dalam bentuk simpanan giro, tabungan dari deposito (Abdullah, 2005:33).
b. Rasio Kecukupan Modal (Capital Adequacy Ratio / CAR) digunakan untuk mengukur kecukupan modal bank dalam menyanggah resiko dari aktiva bank (Dendawijaya, 2005:121). Menurut Siamat (2005:254) “perhitungan rasio kecukupan modal dilakukan dengan menbandingkan jumlah modal yang dimiliki (modal inti dan modal pelengkap) bank dengan aktiva tertimbang menurut resiko”. Dalam menghitung aktiva tertimbang menurut resiko, terhadap masing-masing aktiva diberikan bobot resiko yang besarnya didasarkan pada kadar resiko yang terkandung padaaktiva
Pembahasan hasil penelitian
Dari hasil pengujian variabel secara parsial, variabel dana pihak ketiga (DPK) dan ROA (return on asset) berpengaruh signifikan terhadap volume kredit sedangkan CAR (capital adequacy ratio) dan NPL (non performing loan) tidak berpengaruh signifikan terhadap volume kredit. Hal ini dapat dilihat dari nilai t hitung dan t tabel serta signifikansi masing-masing variabel tersebut.
Dana pihak ketiga (DPK) dapat digunakan memprediksi volume kredit. Dari hasil uji statistik yang dilakukan, dana pihak ketiga memiliki pengaruh positif terhadap volume kredit. Hasil uji t , LN_DPK yang menunjukkan variabel dana pihak ketiga memiliki nilai signifikansi t sebesar 0,000 yang lebih kecil dari 0,05 artinya variabel dana pihak ketiga (DPK) secara parsial berpengaruh terhadap volume kredit. Hasil ini mendukung teori yang dikemukan oleh Warjiyo (2005:432) yang mengatakan bahwa dana yang dihimpun oleh perbankan dari masyarakat akan digunakan untuk pendanaan aktivitas sektor riil melalui penyaluran kredit dan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat banyak seperti yang disebutkan dalan UU No.10 tahun 1998. Hasil ini juga sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Meydianawathi (2006) dan Harmanta dan Ekananda (2005) yang menunjukkan bahwa peningkatan dana pihak ketiga akan diikuti dengan peningkatan penyaluran volume kredit oleh perbankan.
CAR (Capital Adequacy Ratio) tidak dapat digunakan untuk memprediksi volume kredit karena dari hasil uji secara parsial menunjukkan tidak ada pengaruh yang signifikan antara variabel ini dengan volume kredit, dimana nilai signifikansi t sebesar 0,727 yang lebih besar dari 0,05 . Perbedaan ini kemungkinan disebabkan oleh perbedaan sampel yang digunakan. Meskipun hasilnya tidak signifikan, bukan berarti bank dapat mengabaikan CAR dalam penyaluran kredit karena kecukupan modal bank sering terganggu karena penyaluran kredit yang berlebihan. Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Meydianawathi (2006), yang menemukan bahwa capital adequacy ratio berpengaruh signifikan terhadap volume kredit.
ROA (Return on asset) dapat digunakan untuk memprediksi volume kredit. Hasil uji t , LN_ROA yang menunjukkan variabel return on asset memiliki nilai signifikansi t sebesar 0,012 yang lebih kecil dari 0,05 artinya variabel return on asset (ROA) secara parsial berpengaruh terhadap volume kredit. Hasil ini mendukung teori yang dikemukakan oleh Muliaman Hadad (2004:22) yang mengatakan return on asset yang tinggi menunjukkan bank telah menyalurkan kredit dan memperoleh pendapatan, sehingga diperkirakan return on asset dan volume kredit memiliki hubungan yang positif. Hasil ini juga sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Mahrinasari (2003) yang menunjukkan return on asset (ROA) mempunyai hubungan positif dengan volume kredit.
NPL (Non performing loan) tidak dapat digunakan untuk memprediksi volume kredit karena dari hasil uji secara parsial menunjukkan pengaruh negatif tetapi tidak signifikan antara variabel ini dengan volume kredit, dimana nilai signifikansi t sebesar 0,093 yang lebih besar dari 0,05 . Perbedaan ini kemungkinan disebabkan perbedaan sampel yang digunakan. Hasil ini sesuai dengan teori yang dikemukakan yang mengatakan kredit bermasalah berbanding terbalik dengan volume kredit. Namun hasil ini tidak sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Meydianawathi (2006), yang menemukan NPL berpengaruh signifikan terhadap volume kredit. Hasil ini juga berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Harmanta dan Ekananda (2005).
Dari hasil pengujian secara bersama-sama, dapat disimpulkan bahwa dana pihak ketiga, capital adequacy ratio, return on asset dan non performing loan berpengaruh signifikan terhadap volume kredit , yang ditunjukkan dengan nilai F hitung > F tabel dan nilai signifikansi 0,000 < 0,05. Nilai adjusted R square 0,937 mengindikasikan bahwa 93,7% variasi perubahan dalam volume kredit dapat dijelaskan oleh variabel dana pihak ketiga, capital adequacy ratio, return on asset dan non performing loan. Sedangkan sisanya 6,3% dijelaskan oleh sebab-sebab lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian. Dengan demikian berarti kemampuan variabel independen dalam memprediksi variabel dependen tinggi

Analisis jurnal data sekunder:
Liabriana NPM :10207655 Kelas:3EA05

PENGARUH FAKTOR INTERNAL BANK TERHADAP VOLUME KREDIT PADA BANK YANG GO PUBLIC DI INDONESIA
FRANCISCA
DRS. HASAN SAKTI SIREGAR, M.Si, Ak
Universitas Sumatera Utara
Variabel dalam jurnal ini terdiri dari variable independen yang terdiri dariDPK,CAR,OA,dan NPL,dimana regresi ini mempunyai pengaruh signifikan secara simultan atau tidak terhadap volume kredit dilakukan dengan uji F(F test).

Variabel dependen dalam penelitian ini adalah jumlah atau volume penyaluran kredit. Variabel dependen disimbolkan dengan “Y”. Untuk mengetahui apakah variabel independen dalam model regresi mempunyai pengaruh yang nyata atau signifikan terhadap variabel dependen, dilakukan pengujian dengan menggunakan uji t (T test).

a. dana pihak ketiga (X1) memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap volume kredit. Hal ini dapat dilihat dari t hitung > t tabel (28,885 > 1,999) dan nilai signifikan (0,000 > 0,05). Pengaruh positif dan signifikan dana pihak ketiga terhadap volume kredit sebesar 0,912 artinya setiap kenaikan dana pihak ketiga sebesar satu satuan (1%) akan diikuti kenaikan volume kredit sebesar 91,2%.

b. CAR (X2) memiliki pengaruh positif dan tidak signifikan terhadap volume kredit. Besar t hitung <> 0,05). Hal ini dapat dikatakan bahwa tidak setiap kenaikan volume kredit akan diikuti oleh kenaikan modal, dimana bank tetap dapat meningkatkan kredit selama peningkatan kredit tersebut tidak menjadikan modal bank di bawah ketetapan 8 % Bank Indonesia.

c. ROA (X3) memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap volume kredit. Besar t hitung > t tabel (2,583 > 1,999) dengan nilai signifikansi (0,012 < 0,05). Setiap kenaikan return on asset 1% akan diikuti dengan kenaikan volume kredit sebesar 18,3% .


d. NPL (X4) memiliki pengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap volume kredit. Besar t hitung > t tabel (1,706 <> 0,05).

e. variabel independen (dana pihak ketiga, capital adequacy ratio, return on asset dan non performing loan) secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen (volume kredit).